Gelombang PHK global memasuki fase paling serius. Di balik hampir 900 ribu pekerja yang kehilangan pekerjaan sejak 2025, satu hal mulai terungkap: peran besar kecerdasan buatan (AI) dalam mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia.
Sejumlah CEO perusahaan dunia kini mulai berbicara terbuka. Mereka tidak lagi menutup fakta bahwa otomatisasi dan AI membuat perusahaan tidak membutuhkan jumlah karyawan sebanyak sebelumnya.
Berikut 10 PHK terbesar dunia (2025–2026):
UPS (Logistik)
👉 ±34.000 pekerja
Restrukturisasi besar + otomatisasi distribusiNestlé (FMCG)
👉 ±16.000 pekerja
Efisiensi global & digitalisasi operasionalMicrosoft (Teknologi)
👉 ±15.000 pekerja
Fokus investasi besar ke AIAmazon (Teknologi & Logistik)
👉 ±14.000 pekerja
Otomatisasi gudang & efisiensi operasionalEstée Lauder (Kosmetik)
👉 ±7.000 pekerja
Perubahan strategi digital & efisiensiBP (Energi)
👉 ±7.700 pekerja
Transformasi bisnis & efisiensi teknologiIntel (Semikonduktor)
👉 ±5.000+ pekerja
Restrukturisasi + fokus AI chipHP (Teknologi)
👉 ±4.000–6.000 pekerja
Automasi & efisiensi globalLufthansa (Aviation)
👉 ±4.000 pekerja
Digitalisasi layanan & efisiensi biayaSalesforce (Teknologi)
👉 ±3.000 pekerja
AI menggantikan beberapa fungsi internal
Fenomena ini semakin jelas ketika salah satu CEO teknologi global menyatakan:
“Kami tidak mengganti semua manusia dengan AI, tetapi kami tidak lagi membutuhkan sebanyak dulu.”
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa dunia kerja sedang berubah secara fundamental.
Di Indonesia sendiri, dampaknya mulai terasa dengan puluhan ribu pekerja terkena PHK, terutama di sektor padat karya. Namun skala global menunjukkan perubahan jauh lebih besar dan lebih cepat.
Para analis menilai, ini bukan sekadar siklus ekonomi biasa. Ini adalah awal dari era baru, di mana AI tidak hanya membantu manusia bekerja, tetapi juga menentukan siapa yang tetap dibutuhkan.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan mengambil alih pekerjaan melainkan seberapa cepat kita bisa beradaptasi sebelum tergantikan.
